Rabu, 01 September 2010
Masikah AKU menemukan Iman dan Ucapan syukur dalam hidupmu?
Firman Tuhan dari Kolose 2 : 6-7....
dalam perenunganku...
melihat Proses yang ku alami dalam satu tahun terakhir... ad saat dimana aq sudah g sanggup untuk bertahan... saat dimana aq sulit untuk bersyukur n saat dmana aq sulit untuk percaya padaNya....Jesus bertanya... apakah DIA masih bisa menemukan iman dan ucapan syukur dalam hidupku???
yang DIA minta... PERCAYA n BERSYUKUR... apapun yang aq alami... dengan begitu aq bisa bertahan....
percaya bahwa DIA memperhitungkan setiap tetes air mataku...
dan DIA sementara merangkai senyum yang indah dari tiap tetes air mataku....
bersyukur karna DIA sangat mengasihiku...
DIA kembali mengingatkan aq untuk tetap PERCAYA dan BERSYUKUR....
tidak alasan untuk aq berhenti bersyukur....
ketika masalah datang.. kita rentan untuk menjadi orang yang tidak beriman dan tidak bersyukur... tapi itu bergantung pada pilihan kita...
jangan menyerah!!!!
Jangan hanya katakan pada Tuhan kalo kita punya masalah yang besar... katakan pada masalah, kalo kita punya Jesus yang besar !!!!
bersyukurlah untuk stiap hal yang terjadi dalam hidup kita. kalo kita ada sampai saat ini.... itu karena DIA...
Masikah Jesus menemukan iman dan ucapan syukur dalam hidup kita??
Jesus Bless u ^_^
Kamis, 26 Agustus 2010
MENGAMPUNI
Mengampuni tidak sama dengan melupakan. Orang-orang yang berusaha melupakan sakit hati mereka seringkali berkata bahwa mereka tidak dapat melupakannya. Allah berkata bahwa Ia "tidak akan lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita" (Ibr 10:17*) padahal Ia mahatahu. Jadi, arti sesungguhnya dari "tidak lagi mengingat" ialah bahwa Allah tidak akan memanfaatkan masa lalu untuk menyerang kita (Mazm 103:12*). Melupakan barangkali merupakan hasil dari tindakan mengampuni, tetapi melupakan tidak sama artinya dengan mengampuni. Ketika kita mengingat-ingat masa lalu untuk menyerang seseorang, sebenarnya kita sedang berkata bahwa kita tidak mengampuni mereka.
Mengampuni adalah pilihan, sesuatu yang harus diputuskan dan dilakukan. Jika Allah meminta kita untuk mengampuni, itu berarti kita mampu melakukannya. Tetapi, kita sulit untuk mengampuni karena hal itu berlawanan dengan pemahaman kita mengenai keadilan. Kita ingin membalas sakit hati kita, tetapi ada perintah bahwa kita tidak diperkenankan untuk membalas dendam (Roma 12:19*). "Mengapa saya harus membiarkan saja mereka tanpa balasan?" Di situlah pokok persoalannya, anda masih merasa sakit hati, masih terikat dengan peristiwa yang sudah berlalu. Anda akan membiarkan mereka lepas dari dendam anda, tetapi mereka tidak akan pernah lepas dari pengawasan dan pembalasan Allah. Dia akan menghakimi mereka dengan seadil-adilnya, sesuatu yang tidak dapat kita lakukan.
Anda mengatakan, "Tetapi anda tidak mengerti betapa menyakitkannya hal ini bagi saya!" Tetapi tidakkah anda menyadari, kalau anda tidak mengampuni mereka, mereka masih menguasai dan menyakiti anda? Jadi, bagaimanakah anda harus mengatasi sakit hati anda? Anda tidak dapat mengampuni seseorang demi kebaikan mereka; apabila anda melakukannya, lakukanlah demi kebaikan anda sehingga anda bebas dari sakit hati. Kewajiban anda untuk mengampuni bukan merupakan persoalan antara anda dan lawan anda, melainkan antara anda dan Allah.
Mengampuni berarti rela menanggung akibat-akibat yang ditimbulkan oleh dosa orang lain. Memang mengampuni merupakan sesuatu yang sangat mahal harganya. Anda membayar harga kejahatan yang anda ampuni, dan anda harus rela menanggung akibat-akibatnya, lepas dari keinginan anda; hanya ada dua pilihan bagi anda: memendam kepahitan oleh karena anda tidak rela mengampuni, atau mengalami kelepasan karena anda rela mengampuni. Yesus rela menanggung segala akibat yang ditimbulkan oleh dosa anda di dalam Diri-Nya. Pengampunan yang sejati merupakan tindakan penggantian, sebab tidak seorang pun yang dapat sungguh-sungguh mengampuni tanpa harus menanggung akibat-akibat dosa orang lain. Allah Bapa membuat "Ia yang tidak mengenal dosa menjadi dosa, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2Kor 5:21*). Di manakah letak keadilan? Saliblah yang membuat pengampunan benar secara hukum dan moral: "Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya" (Roma 6:10*).
Bagaimana caranya agar anda dapat mengampuni dengan tulus hati? Pertama, akuilah sakit hati dan kebencian yang anda rasakan. Jika pengampunan yang anda berikan belum melibatkan emosi dan perasaan anda, pengampunan itu belumlah lengkap. Banyak orang merasakan sakit hati oleh karena hubungan antar pribadi yang kurang baik, tetapi mereka tidak mengakuinya. Izinkan Allah memunculkan rasa sakit itu ke permukaan sehingga Ia dapat menanganinya. Di sinilah penyembuhan terjadi.
Putuskanlah bahwa anda rela menanggung sikap buruk mereka serta tidak akan memanfaatkan kesalahan itu untuk menyerang mereka di kemudian hari. Hal itu tidak berarti bahwa anda sedang bertoleransi terhadap dosa; anda harus tetap siaga melawan dosa.
Jangan tunda untuk mengampuni sampai anda merasa bersedia melakukannya; anda tidak akan pernah sampai di situ. Perasaan itu memerlukan waktu dalam proses penyembuhannya sesudah anda mengambil keputusan untuk mengampuni. Dengan demikian Iblis tidak beroleh kesempatan (Ef 4:26,27*). Kemerdekaan adalah sesuatu yang akan diperoleh, bukan dirasakan.
Sementara anda berdoa, Allah akan mengingatkan anda pada orang-orang dan pengalaman-pengalaman yang menyakiti anda yang sebenarnya anda lupakan sama sekali. Izinkanlah Dia melakukannya walaupun hal itu sangat menyakitkan. Ingat, bahwa anda melakukannya demi kebaikan anda sendiri. Allah ingin agar anda bebas. Janganlah mengingat-ingat apa yang sudah dilakukan oleh orang yang sudah menyakiti anda. Pengampunan akan menyembuhkan rasa sakit anda, bukan kesalahan-kesalahan orang lain. Perasaan-perasaan yang baik pada saatnya akan muncul; membebaskan diri dari masa lalu merupakan suatu pokok yang sangat penting.
Janganlah anda berkata, "Tuhan, tolonglah saya untuk mengampuni", karena sebenarnya Dia sudah menolong anda. Jangan pula mengatakan, "Tuhan, saya mau mengampuni", karena itu belum berarti bahwa saudara sungguh mengampuni, hanya merupakan keinginan anda saja. Ingatlah bahwa hal mengampuni itu merupakan keputusan kehendak anda. Katakan langsung, "Tuhan, saya mengampuni". Tetaplah mengingat setiap pribadi, sampai anda benar-benar yakin bahwa anda sudah mengatasi semua rasa sakit yang anda ingat; apa yang mereka lakukan terhadap anda, bagaimana mereka menyakiti anda, bagaimana mereka membuat anda merasa ditolak, tidak disenangi, tidak layak, kotor, dll.
GBU ALL......^__^
(sumber : Facebook - Kristus Jawaban)
Selasa, 25 Mei 2010
Setahun Update
Senin, 08 Juni 2009
How Great Is Our God
The splendor of a King, clothed in majesty
Let all the earth rejoice
All the earth rejoice
He wraps himself in Light, and darkness tries to hide
And trembles at His voice
Trembles at His voice
How great is our God, sing with me
How great is our God, and all will see
How great, how great is our God
Age to age He stands
And time is in His hands
Beginning and the end
Beginning and the end
The Godhead Three in One
Father Spirit Son
The Lion and the Lamb The Lion and the Lamb
Name above all names
Worthy of our praise
My heart will sing
How great is our God
How great is our God, sing with me
How great is our God, and all will see
How great, how great is our God
Selasa, 05 Mei 2009
Belajar Bergantung pada-Nya
Selasa, 21 April 2009
my bro...
papa n mama terbaik ^^
skripsi...skripsi...
Rabu, 04 Maret 2009
Diambil dari sebuah kisah nyata di Amerika Serikat, dan sebuah kisah nyata dalam kehidupan kita.
Love suffers long and is kind; love does not envy; love does not parade itself, is not puffed up; does not behave rudely, does not seek its own, is not provoked, thinks no evil; does not rejoice in iniquity, but rejoices in the truth; bears all things, believes all things, hopes all things, endures all things.. 1 Corinthians 13:4-7 (NKJV)
Adalah seorang muda yang taat berdoa yang masih berpacaran dengan seorang gadis muda juga yang baik hati. Kedua orang ini adalah dua konglomerat kaya. Sebelumnya merekapun selalu berdoa, “Tuhan berikanlah aku pasangan yang menurut Engkau terbaik...” Setelah mereka menikah, keadaan berubah. Maksudnya, doanya berubah menjadi, “Tuhan, berikanlah kami anak yang terbaik buat kami.” Tetapi setelah 7 tahun mereka menikah, mereka tidak mempunyai anak. Setelah mereka berdoa dan berdoa, akhirnya mereka mempunyai anak. Dan keadaan, maksudnya doa mereka berubah lagi, “Tuhan, biarlah anak ini menjadi anak yang terbaik bagi kami.”Dan benar, setelah 9 bulan istrinya mengandung, lalu lahirlah seorang anak bagi mereka. “Anak laki-laki, pak,” kata dokternya. Sang ayah langsung melonjak kegirangan. Tetapi setelah 3 hari, sang dokter memanggil si ayah ke rumah sakit. Lalu si dokter berkata, ”Pak, dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar buruk kepada anda.”
Si ayah membalas, “Kabar apapun, saya siap menerimanya, pak dokter. Saya siap menghadapi yang terburuk””Dan hal yang buruk itu adalah, bahwa putra anda tidak akan bertumbuh dengan normal seperti anak-anak yang lain,” jelas si dokter. ”Apa maksud bapak?” si ayah bertanya. Dokter melanjutkan, ”Putra anda menderita sesuatu kecacatan yang tidak dapat disembuhkan. Yaitu cacat mental yang serius.” Sang ayah lalu menitikan air mata dan berkata sambil berdoa, “Tuhan, apapun yang Engkau berikan kepadaku, aku tahu semuanya baik dan Engkau tidak pernah mencelakakan anak-anakMu.”
But above all these things put on love, which is the bond of perfection. Colossians 3:14 (NKJV)
Sejak itu, kedua orang tua itu membeli ranjang bayi khusus anak mereka dan ditaruh di samping ranjang mereka berdua.Mereka selalu kesulitan untuk mengurus anak mereka tersebut, tetapi mereka menanggung semuanya itu. Beranjak keluar dari umur batita, mereka membuatkan kamar khusus untuk anak mereka tersebut. Anak itu menjadi anak yang sangat istimewa dan menjadi anak mereka satu-satunya. Mereka memberikannya segala yang dia mau dan dia perlukan. Mainan macam-macam, komputer, boneka, dan lain-lain. Dan jika si ayah selesai pulang kerja, ia selalu mengajak si anak bermain. Dengan mainan yang ada atau jika ayahnya membawa mainan yang baru untuk anaknya.
Setiap ayahnya pergi keluar misalkan untuk berpesta dengan rekan kerjanya atau teman-temannya yang sedang berbahagia, ia selalu membawa serta istri dan anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau teman-temannya, ia selalu membanggakan anaknya. 'Woi anak gw nih… ganteng kan ?' Selalu ia mengatakan demikian, karena ia tahu, anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya.. Dan ia sangat mengasihi anak ini, karena ini anaknya. Meskipun dia cacat.
Tetapi setelah anak itu bertumbuh makin dewasa, kecacatannya semakin kelihatan. Kemampuan komunikasinya kurang, jika terjemur matahari sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang air liurnya menetes.Tetapi meskipun begitu, kedua orang tua tetap sangat sangat menyayangi anak mereka yang cacat itu.
Suatu hari, pagi-pagi sekali anak cacat ini sudah bangun, sekitar pukul 4.30. Dalam pikirannya, 'Hari ini, aku pengen buat sarapan yang speeeeeesial buat papa.'Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur. Ia mengambil potong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetel waktunya sampai 10 menit. Tentu saja hasilnya gosong. Setelah bunyi 'ting', maka anak cacat itu menaruhnya di atas sebuah piring. Lalu ia mengoleskan selai kacang keju yang (amat) sangat banyak, sambil berpikir, 'Harus kasih yang baaaaanyak buat papa, biar ueeeeenak rasanya'. Setelah itu, ia berlari ke kulkas, karena ayam sudah mulai berkokok, lalu mengambil sebutir telur. Dan lalu memanaskan panci di atas kompor, lalu memecahkan telur tersebut dan menuangkan isinya ke dalam panci tersebut, dan langsung menaruhnya di atas piring yang lain, sambil berpikir,'Kalo aku buatnya cepet, pasti papa seneng, karena gak perlu nunggu lama.' Dan lalu ia bergegas mengambil cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika kita hanya membutuhkan 2 sendok teh, anak cacat ini memakai 5 sendok teh kopi bubuk, sambil berpikir, 'Kalau 2 sendok teh saja sudah harum, apalagi 5, pasti papa suka.' Jadilah kopi yang terasa seperti kopi tua itu. Lalu si anak cacat ini mengambil nampan, lalu dengan hati-hati tanpa menimbulkan bunyi macam-macam, menaruh semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah dan cangkir kopi tua tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia membangunkan ayahnya, dan lalu berkata begini, 'Papa, bangun dong, aku udah buat sarapan yang spesiaaaaaaaal buat papa.'Lalu ayahnya bangun dan melihat dan menghirup aroma 'sedap' dari roti gosong, telur mentah dan kopi tua tersebut. 'Wah pasti enak nih.' Sebelum si ayah melipat tangannya untuk berdoa, si anak berkata, 'Pa, kali ini aku doain makanan ini buat papa ya, ' kan biasanya papa yang doain. OK ya papa?'Sebelum ayahnya sempat mengangguk, si anak cacat ini sudah melanjutkan,
'Papa ikutin ya: Tuhan Yesus, terima kasih, atas makanan ini, yang telah Tuhan sediakan. Terima kasih Tuhan, amin.' Lalu ayahnya mecoba roti gosong tersebut, dan setelah ayahnya mengunyah gigitan pertama, si anak cacat dengan polosnya bertanya, 'Enak kan pa?' 'Iya, enaaaak sekali,' lalu melanjutkan makan. Setelah roti tersebut habis, ia memakan telur mentah tersebut. Dan si anak bertanya, 'Telurnya enak kan pa? Aku yang masak semuanya loooo….' Si ayah berkata, 'Wah kamu yang masak? Enak sekali nak.'Lalu si ayah melanjutkan memakan telur mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mecoba kopi tua itu. Si anak bertanya lagi, 'Harum dan enak kan pa?' Si ayah tanpa expresi mual apapun, membalasnya, 'Pahit, tapi papa suka sekali.' Dan dengan lugunya si anak menjawab, 'Ya iya dong papa, kopi kan pahit…,' karena ia mengira ayahnya sedang bercanda.
Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata 'Ray, kamu tau nggak…' 'Nggak paa,' potong si anak cacat tersebut. Lalu si ayah melanjutkan, 'Kalau semua masakan kamu, enaaaaak sekali.' Lalu si anak menjawab, 'Iya dong pa, kan aku yang masakin, spesiaaaaaal buat papa.' Lalu si ayah berkata lagi, 'Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?' Si anak sambil menggelengkan kepala, 'Nggak tau pa….' 'Karena hari ini kamu dah buat sarapan yang, spesiaaaaal buat papa.' Lalu si ayah melanjutkan,'Ray, kamu tahu gak kenapa papa sayaaaaaaang sekali sama kamu?' Lalu dengan lugunya anak cacat ini menjawab, 'Nggak tahu pa…..''Karena kamu anak papa yang udah bikin papa, seneeeeeeeeeeeng banget.''Raymond juga, sayaaaaaaaaaang banget sama papa.'
Lalu sambil menitikan air mata, ia memeluk anaknya yang cacat itu, dan berkata kepada anaknya,'Terima kasih ya nak, karena telah memasakan sarapan roti, telur, dan kopi ini buat papa. Semuanya terasa, enaaaaak sekali.' Lalu si anak menjawab, 'Sama-sama papaah….' Dan si ayah lalu berdoa dalam hatinya, 'Tuhan terima kasih, karena Engkau sudah memberikan anak yang sangat sayang padaku…'
Anda tahu, siapakah anak cacat dan ayah tersebut? Kamulah, yang sedang membaca adalah anak yang cacat tersebut.. Seperti anak cacat itu memberikan kepada ayahnya, roti gosong, telur mentah dan kopi tua, juga kita, memberikan apa yang tidak sempurna dari kita untuk Tuhan.Roti gosong, telur mentah dan kopi tua, yang merupakan apa yang tidak sempurna dari kita misalnya, pujian, dan kehidupan kita, Tuhan terima semuanya dengan senang hati, karena Tuhan tahu, bahwa kita melakukannya dengan segenap hati kita yang tertuju pada Bapa di sorga, dan kita ingin melakukan yang terbaik untuk Bapa kita di sorga.
NB: Memang sulit melihat kenyataan bahwa kitalah anak cacat tersebut. Mengasihi dan menerima seorang anak yang cacat, yaitu seorang anak yang menurut nalar tidak memiliki masa depan dan tidak dapat diharapkan pastilah benar-benar memerlukan suatu “kasih tidak bersyarat” yang merupakan suatu pergumulan besar dalam hidup manusia.
Ingat ini: Bapamu di sorga menyayangimu, apa adamu, apa yang ada padamu, apapun yang engkau berikan dengan segenap hatimu, merupakan sebuah persembahan yang harum. Karena Bapamu mengasihi kamu, sampai-sampai Ia sendiri mengirimkan Anak-Nya untuk turun ke dunia, untuk menebuskan dan mematahkan segala kutuk atas diri kita, dan untuk membayar lunas segala hutang dosa kita dan menebus dosa kita dari maut..
Ingat : Bapamu di sorga mengasihimu.
You are all fair, my love, and there is no spot in you. Song of Solomon 4:7 (NKJV)